Pagi hari ini, setelah HP diaktifkan, tak kurang tiga pesan singkat muncul di layar HP. Sebuah pesan memberitahukan tentang rapat penting dengan klien di sebuah gedung perkantoran di pusat kota Jakarta. Dua pesan lainnya adalah promosi tidak penting dari operator seluler. “Ok, aku segera datang jam 9 tepat”, dan sebuah pesan balasan pun dikirimkan. Karena pentingnya rapat tersebut, membaca email menjadi ritual wajib yang harus diselesaikan saat itu juga. Karena perjalanan menuju Jakarta serta kegiatan rapat bakal menyita waktu hampir seharian, maka menjawab email-email yang masuk pagi itu akan memudahkan koordinasi pekerjaan-pekerjaan yang bakal tertunda akibat acara di Jakarta. Tak lupa instant messenger pun diaktifkan untuk melihat apakah ada rekan maupun klien yang sedang online atau tidak. Setelah basa-basi sejenak, instant messenger pun dimatikan, dan acara dilanjutkan dengan memeriksa saldo rekening perusahaan lewat sebuah situs internet banking yang dimiliki oleh bank tersebut. ”Ah, belum ada lagi yang membayar pesanan”, kekecewaan pun muncul sesaat tatkala saldo rekening tak juga bertambah. Laptop pun dibiarkan tetap terbuka sambil mendengarkan musik dari sebuah radio Internet yang ada di Bandung. Selanjutnya saat yang tepat untuk mandi dan sarapan.
Perjalanan menuju Jakarta berlangsung membosankan, jalanan padat oleh kendaraan, dan kemacetan terjadi hampir di semua titik. Tampaknya rapat tidak akan dapat dihadiri tepat waktu. HP pun dinyalakan dan panggilan ke rekan yang ada di kantor pusat Jakarta pun dilakukan. Sial, ternyata HP-nya mati. Sebuah pesan singkat pun dikirimkan. Ternyata pesan ini pun berstatus pending alias tertunda dikirim. Untuk mengusir rasa bosan di tengah deru kendaraan dan kemacetan Jakarta, aplikasi mobile messenger yang ada di HP pun diaktifkan. Hmm,… ternyata rekan yang ingin dihubungi sedang online. Beberapa data yang diminta untuk rapat hari itu pun dapat disampaikan dan dikirimkan. Dan seperti diperkirakan semula, kemacetan membuat rapat hari itu terlambat dihadiri. Untungnya, rapat tetap dijalankan karena materi rapat sempat dikirimkan dan dibawakan oleh rekan di kantor pusat tadi. Sekarang saatnya presentasi.
Rapat dan presentasi hari itu berlangsung sukses dan klien puas dengan produk yang ditawarkan. Klien berjanji akan melakukan pembayaran ke rekening perusahaan siang ini juga. Setelah makan siang bersama rekan di daerah Semanggi, selanjutnya kembali lagi ke kantor di Bogor. Dalam perjalanan pulang, kemacetan kecil melanda beberapa titik di kota Jakarta. Untuk mengusir penat, membaca Koran mungkin obat yang pas. Tapi tidak ada Koran disini. Ups,....karena terburu-buru, koran pagi pun tak ikut terbawa di dalam mobil. Sekali lagi HP tampil sebagai menyelamatkan. Untuk mendapatkan berita terkini, sebuah portal beritapun diakses menggunakan HP lewat teknologi WAP. Ternyata tak ada berita menarik hari ini. Melihat TV mungkin menarik juga. HP pun diubah ke mode TV dan siaran berita dari sebuah stasiun televisi terkemuka pun telah hadir di depan layar HP. Tampaknya ada kecelakaan di ruas tol Jagorawi yang membuat perjalanan sedikit terhambat.
Ya ampun, hari ini kiriman produk harus dikirimkan ke distributor di Medan. Mobile messenger pun sekali lagi diaktifkan dan tampak beberapa staf produksi di Bogor sedang online. “Rapat kecil” pun dapat dilakukan dari dalam mobil saat itu juga. Dan kiriman segera dikirim setelah ”rapat kecil” tersebut berakhir. Tak beberapa lama sebuah pesan singkat muncul di layar HP, menginformasikan adanya transfer sejumlah uang ke rekening perusahaan dari klien yang baru saja rapat tadi.
Untuk memastikan apakah transfer benar-benar telah masuk ke rekening perusahaan, tidak ada salahnya untuk memastikannya menggunakan teknologi USSD (Unstructured Supplementary Service Data). Teknologi yang biasa dipakai pada layanan pengecekan pulsa pada GSM tersebut , kini telah dikembangkan untuk fasilitas transaksi perbankan. Setelah menunggu beberapa detik dan beberapa langkah untuk mengaksesnya dilakukan, informasi saldo rekening pun muncul di depan layar HP. Jumlahnya persis seperti yang disepakati dalam rapat siang hari tadi. Senyum pun terkembang. Saldo rekening perusahaan telah bertambah dan bisnis pun menjadi lancar.
Dalam kehidupan sehari-hari. kejadian diatas adalah nyata dan telah menjadi gaya hidup dari individu-individu yang secara sadar maupun tidak telah mengimplementasikan arti konvergensi teknologi informasi secara tepat.
Konvergensi Teknologi Informasi atau disingkat TI dengan telekomunikasi akan menyatukan berbagai layanan, teknologi, dan informasi yang ada didalamnya dalam satu titik tanpa mempedulikan apa jenis aplikasinya, apa platformnya, serta apa media untuk mengaksesnya. Dengan adanya konsep konvergensi memungkinkan seseorang untuk membaca berita yang tersimpan di situs yang sama dengan cara yang berbeda, melalui ponsel, komputer, maupun handset lainnya. Memungkinkan seseorang untuk memeriksa saldo rekening bank nya
Bagi individu-individu ini, TI dan juga telekomunikasi telah menjadi sebuah bagian terintegrasi yang dapat dimanfaatkan secara luwes dimanapun mereka berada. Teknologi informasi dan juga telekomunikasi sudah menjadi daily bread atau makanan sehari-hari bagi mereka. Dengan konvergensi, individu-individu ini terlihat punya lebih banyak “akal” dan penghalang apapun hampir selalu dapat diatasi karena pilihan yang dimiliki lebih bervariasi. Namun seberapa pentingnya konvergensi bagi masyarakat? Berapa banyak individu-individu yang mengerti arti konvergensi di Indonesia? Bagaimana menciptakan individu-individu demikian ?
Mengapa Harus Konvergensi ?
Manfaat terbesar konvergensi antara TI dengan telekomunikasi akan dirasakan oleh konsumen. Konsumen memiliki lebih banyak pilihan karena konvergensi meruntuhkan sekat pemisah antara berbagai teknologi, aplikasi, maupun perangkat-perangkat yang ada didalamnya.
Konvergensi membuat Internet semakin powerful. Semua orang bisa mengirimkan informasi baik itu gambar, suara maupun video dari manapun, kemanapun, kapanpun, dengan peralatan apapun lewat Internet. Dengan situasi dimana informasi menjadi transparan, membuat batas ruang yang membatasi informasi tersebut menjadi sempit.
Konvergensi memberi lebih Banyak Pilihan
Dengan pilihan yang lebih bervariasi, memungkinkan manusia mengambil keputusan yang lebih baik. Kehidupan manusia menjadi lebih efektif dan efisien, dan tentu saja kualitas kehidupan pun menjadi lebih baik. Coba bayangkan, berapa nilai nominal yang terbuang akibat kemacetan di jalanan setiap harinya. Berapa waktu yang terbuang untuk menunggu antrian kendaraan yang harus berdesakan di pintu tol. Belum lagi menurunnya kualitas hidup manusia akibat pencemaran udara maupun polusi suara. Tak terhitung pula kerugian sosial akibat meningkatnya perubahan stabilitas kejiwaan manusia akibat tekanan hidup di jalan raya. Isu mengenai konvergensi sebenarnya bukanlah sekedar isu tentang teknologi, namun multi-dimensi.
Konvergensi Tidak Memigrasi Massa
Secara umum, konvergensi bersifat “anti kerumunan”, artinya konvergensi memacu perilaku hidup manusia untuk mengurangi aktifitas yang membutuhkan pertemuan fisik antara individu-individu dalam jumlah besar dan mensubstitusikannya dengan pertemuan maya yang relatif sepi dari aktifitas yang biasa dihasilkan oleh sekumpulan orang,. Aktifitas ini bisa saja memicu ketidakefektifan misalnya kebiasaan ngerumpi maupun kewajiban untuk menyediakan snack atau makan siang.
Orang akan cenderung untuk melakukan rapat melalui fasilitas online baik itu melalui layanan teleconference maupun instant messenger yang praktis dan sederhana namun teknologinya semakin lengkap dengan adanya fitur suara, gambar, maupun video camera. Kecenderungan ini membuat manusia mengurangi aktifitas di luar rumah atau kantor.Jika situasi ini terus meningkat, dapat berakumulasi pada lengangnya jalan raya, berkurangnya kecelakaan, dan sebagainya. Tren baru pun akan muncul, jumlah mini office menjadi meningkat dan tersebar. Mini office adalah kantor dengan ukuran ruangan yang lebih kecil namun berisi fasilitas telekomunikasi dan koneksi Internet yang memadai. Masing-masing perusahaan menggunakan Internet secara optimal untuk komunikasi, transaksi, maupun promosi. Dan para pegawai kantor dapat memilih tempat bekerja sesuai dengan lokasi terdekat dengan tempat tinggalnya tanpa perlu perusahaan khawatir produktifitas karyawan yang bersangkutan akan menurun. Intinya, banyak biaya operasional perusahaan dapat dihemat. Negara pun turut merasakan manfaatnya misalnya jalanan tidak cepat rusak sehingga biaya perawatan bisa disubsidi untuk kepentingan lainnya misalnya pendidikan dan kesehatan.
Konvergensi Menciptakan Pasar Baru
Bagi industri, konvergensi memberi peluang yang lebih besar untuk terus menciptakan pasar baru. Dengan adanya konvergensi, dunia industri dapat dengan mudah menampilkan fitur dan aplikasi baru di media atau teknologi yang baru. Ketika Internet muncul pertama, sebuah surat kabar nasional kemudian menangkap pasar baru yang dihasilkan dari Internet dengan cara menyediakan portal berita dengan memanfaatkan konten yang dihasilkan oleh wartawan-wartawan yang utamanya ditujukan untuk ditampilkan di versi cetaknya. Demikian pula ketika teknologi seluler berkembang, surat kabar tersebut kemudian menyediakan versi mobile dari produk surat kabar tersebut. Materi beritanya tetap sama, diambil dari materi yang dihasilkan oleh para wartawan tadi. Perusahaan hampir tidak perlu untuk membuat tim produksi baru lagi, karena konten yang ada dapat didistribusikan ke semua media baru hampir tanpa ada perubahan material yang signifikan.
Dalam perspektif teknologi, konvergensi dapat dilihat sebagai “hanya” penambahan antarmuka ke sistem, konten, dan teknologi lama yang telah ada. Namun kenyataannya, penambahan antarmuka ini berarti besar dalam menggaet pasar baru. Berdasarkan hasil survey, sebagian pengguna layanan Internet dan seluler adalah individu yang berbeda. Pelanggan surat kabar nasional tadi, belum tentu mengakses portalnya maupun berlangganan versi mobile-nya. Demikian pula sebaliknya. Masing-masing pengguna berusaha mendapatkan manfaat terbaik dari pilihan yang disediakan oleh perusahaan tersebut. Meskipun dalam beberapa kasus, satu pengguna dapat pula menggunakan semua pilihan tersebut bergantung pada situasi yang dihadapinya.
Meski demikian, konvergensi bukan sekedar perkara bagaimana mengoptimalkan sumber daya yang digunakan dalam proses produksi maupun kehidupan sehari-hari saja, namun lebih dari itu, konvergensi sebenarnya merupakan sebuah evolusi menuju peradaban baru yang menghasilkan individu-individu baru dengan karakter-karakter baru. Mengingat situasi yang ada, konvergensi bukan lagi sebuah kebutuhan, namun mendesak untuk menjadi sebuah kebijakan nasional.
Namun tantangan besar menghadang di depan mata. Konvergensi tampaknya tetap merupakan milik orang-orang yang melek TI maupun teknologi. Untuk membuat pengguna menjadi melek TI bukanlah perkara sederhana. Diperlukan strategi edukasi yang tepat untuk membuat konvergensi bukan lagi hanya dapat dinikmati oleh sekelompok golongan saja.
Mengamati Tren dan Perilaku Pengguna
Menjadi individu yang menguasai TI tidak berarti haruslah memiliki pendidikan formal di bidang komputer maupun teknologi. Semua orang bisa menjadi orang yang melek TI sekalipun tidak memiliki pendidikan formal di bidang tersebut.
Edukasi konvergensi TI dan Telekomunikasi memerlukan strategi edukasi yang tepat dan sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Untuk menentukan strategi edukasi konvergensi di Indonesia dapat dilakukan dengan mengamati tren pertumbuhan dan penetrasi penggunaan Internet dan teknologi seluler.
Berdasarkan data dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), hingga bulan Juni 2007, jumlah pengguna Internet di Indonesia telah mencapai 25 juta orang. Dengan estimasi jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai 250 juta jiwa pada periode tersebut, maka penetrasi Internet di Indonesia barulah mencapai 10% dari total penduduk Indonesia. Setiap tahunnya pengguna Internet bertambah sekitar 8% saja. Artinya Internet masih menjadi barang langka di Indonesia dan hingga 10 tahun mendatang usaha meng-Internet-kan seluruh titik di wilayah nusantara masih merupakan sebuah angan-angan.
Mengapa demikian? Komputer, Laptop, apalagi Internet ternyata masih dianggap sebagai “mesin canggih” yang memerlukan tingkat intelegensia yang tinggi bagi siapapun yang menggunakannya. Jika komputer saja masih dianggap demikian, apalagi Internet. Program sejuta komputer yang dibagikan ke sekolah-sekolah bisa menjadi awal, namun juga bisa menjadi kontraproduktif ketika sumber daya manusia yang ada kurang memadai. Meski demikian, yang harus dihancurkan terlebih dahulu adalah stigma bahwa komputer dan Internet adalah barang “titipan dewa” yang tidak boleh sembarangan disentuh. Biarkan siswa menggunakan sepuas-puasnya tentunya dengan diberi panduan atau fasilitas tambahan seperti instruktur maupun buku. Jika takut komputer rusak, sediakan saja komputer bekas yang butut. Lebih baik masa pakainya pendek tapi termanfaatkan daripada masa pakainya panjang tapi tidak digunakan secara optimal karena ketakutan yang berlebihan.
Bagaimana dengan Internet? Banyak yang mengatakan bahwa masih rendahnya penetrasi komputer baru di Indonesia berpengaruh terhadap penetrasi Internet di Indonesia. Tarif Internet yang masih tinggi dengan kecepatan akses yang kurang memadai juga menambah beban tersendiri. Sama seperti halnya permasalahan dalam penetrasi komputer, usaha untuk meng-Internet-kan Indonesia secara swadaya oleh masyarakat maupun swasta harus diberi kesempatan yang lebih luas. Edukasi ke arah pengguna yang melek Internet harus dimulai bahkan sejak dari rumah. Meski dengan kecepatan akses yang sangat terbatas sekalipun, biaya antara Rp. 50.000,- hingga 150.000,- per bulan untuk akses 24 jam masih terjangkau oleh pasar rumah tangga di Indonesia. Angka ini tentu saja bukan sembarang angka. Satu orang bersedia mengeluarkan nilai tersebut untuk mengisi ulang pulsa HP-nya setiap bulannya. Dengan edukasi yang tepat, setiap orang bisa online lewat instant messenger 24 jam sehari. Dengan biaya yang kurang lebih sama.
Lalu bagaimana dengan dunia seluler? Berdasarkan data dari ATSI (Asosiasi Telepon Seluler Indonesia) pada bulan Maret 2007 jumlah pengguna seluler telah mencapai 75 juta. Hanya naik sekitar 5 juta dari akhir tahun sebelumnya. Artinya dalam satu tahun diperkirakan pengguna seluler akan bertambah 10 hingga 15 juta. Meski penetrasi pengguna seluler ini dianggap masih kurang dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, namun dengan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pengguna Internet ini memberi peluang bagi keduanya untuk tumbuh bersama lewat konvergensi. Selain itu, pengguna seluler juga lebih responsif terhadap teknologi baru yang muncul. HP pengguna seluler di Indonesia lebih cepat berganti daripada komputer yang ada di rumah misalnya yang seringkali dipakai bersama sama. Padahal dalam beberapa kasus harga HP bahkan lebih mahal dari pada komputer.
Pertumbuhan jumlah pengguna seluler yang cukup tinggi ini dipicu pula oleh munculnya teknologi baru seluler salah satunya adalah 3G yang secara langsung memacu pertumbuhan lalu lintas data melalui peralatan seluler. Meningkatnya lalu lintas data ini memacu pula peningkatan jumlah pengguna mobile Internet. Karakteristik pengguna seluler yang lebih responsif terhadap fitur baru merupakan potensi bear yang dapat membantu edukasi konvergensi TI dan telekomunikasi di Indonesia. Konvergensi TI dan telekomunikasi akan lebih cepat terjadi di Indonesia, terutama di ibukota yang padat penduduknya.
Strategi Edukasi
Strategi edukasi yang tepat akan mendorong konvergensi TI dengan telekomunikasi dengan cara membuka wawasan dan peluang dari konvergensi serta mengembangkan individu-individu yang mampu mengendalikan fitur-fitur konvergensi yang ada secara lebih optimal. Konvergensi harus dikenalkan sedini mungkin, ditawarkan dengan kemasan yang menarik, serta selalu didukung dengan fitur-fitur baru yang sesuai dengan tren yang berkembang.
Untuk itu, cara yang lebih potensial dan efektif adalah fokus pada pengguna seluler. Dengan mengedukasi lebih intensif pengguna seluler peluang keberhasilan konvergensi terlihat lebih besar. Hal ini dapat dibaca dengan melihat pertumbuhan dan karakteristik pengguna seluler yang ada di Indonesia saat ini. Lalu bagaimana mengedukasikan konvergensi tersebut kepada pengguna seluler?
Beri Lebih Banyak Hiburan dan Nilai Lebih
Salah satu cara paling efektif untuk membangkitkan ketertarikan pengguna seluler adalah dengan mengemas layanan yang ada dalam bentuk hiburan serta lebih banyak menyediakan fitur hiburan yang selama ini banyak di Internet ke dunia seluler. Fitur hiburan lebih mudah dicerna dan diterima oleh lebih banyak segmen pengguna. Layanan Chatting lewat Instant Messenger, Suara, Musik, maupun video perlu lebih banyak ditampilkan oleh penyedia-penyedia konten. Ketika semua konten yang dapat dinikmati baik itu lewat televisi, film, maupun Internet dapat pula diperoleh lewat jaringan seluler, apalagi yang kurang dari teknologi seluler?
Untuk itu, mendorong konten-konten hiburan baru ke dunia seluler bukanlah perkara mudah. Regulasi operator yang kurang menguntungkan penyedia konten menjadi permasalahan kronis yang belum ditemukan solusinya. Ditambah lagi dengan menduanya sikap operator yang bersikap sebagai operator sekaligus penyedia konten membuat posisi penyedia konten semakin terjepit. Meski operator seluler memegang kendali yang teramat kuat didalamnya, namun penyedia konten selalu memiliki celah untuk berusaha sendiri meskipun tetap saja harus menggunakan jaringan dari operator diantaranya dengan memanfaatkan WAP atau 3G.
Biarkan Pengguna Menemukan Sendiri Manfaat yang Sesuai Kebutuhannya
Agar tak membuat lebih rumit, jangan membuat pengguna menjadi semakin bingung dengan konsep konvergensi itu sendiri. Kenalkan lebih banyak fitur kepada pengguna. Kenalkan pula nilai tambah yang bisa diperoleh pengguna seandainya pengguna. Salah satu poin penting dalam mengenalkan konvergensi adalah dengan membiarkan pengguna untuk menemukan manfaat yang paling tepat sesuai kebutuhannya. Hal ini sesuai dengan konsep edukasi itu sendiri yang memerlukan proses.
Di sekolah, siswa-siswa mulai dikenalkan untuk mencari informasi melalui perangkat seluler. Jika di banyak sekolah HP dilarang dibawa ke dalam kelas, pada suatu jam pelajaran tertentu misalnya biologi, sang guru justru memperbolehkan siswa untuk membawanya ke dalam kelas. Bisa dibayangkan bagaimana semangatnya para siswa apabila hal tersebut benar-benar diterapkan. Di dalam kelas, guru mengenalkan pencarian data melalui google atau wikipedia memanfaatkan HP yang dibawa oleh siswa tersebut. Caranya, ketika guru menanyakan tentang sebuah istilah misalnya esophagus , siswa akan mendapati arti dari esophagus di layar HP-nya yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah ”organ vertebrata yang terdiri atas sebuah otot berbentuk tabung yang menjadi jalan bagi lewatnya makanan dari tenggorokan ke perut” .
Tanpa sadar, sang guru telah mengajarkan konvergensi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengajaran di sekolah tersebut yaitu untuk mencari informasi secara cepat dan tepat. Siswa pun tanpa sadar diberi lebih banyak pilihan untuk mendapatkan informasi selain mendapatkannya dari buku pelajaran. Jika aktifitas ini terus dikembangkan di dalam kelas, siswa-siswa akan melek TI dan teknologi seluler lebih dini.
Beri Insentif Yang Menarik Untuk Pengguna Konvergensi
Salah satu ide menarik yang telah diterapkan saat ini adalah dengan memberikan hadiah bagi pengguna layanan perbankan lewat Internet maupun seluler. Model pemberian poin untuk setiap transaksi perbankan yang dilakukan oleh nasabah cukup efektif membangkitkan gairah nasabah untuk setidaknya mencoba bertransaksi baik melalui Internet maupun perangkat selulernya. Poin yang dikumpulkan akan diundi untuk mendapatkan berbagai hadiah menarik diantaranya mobil dan motor.
Bagi bank tersebut, menyediakan hadiah semacam ini bukanlah sebuah kerugian besar karena pada dasarnya dengan meningkatnya tingkat penggunaan teknologi Internet maupun seluler dalam setiap transaksi perbankan, akan mengurangi beban perusahaan untuk penyediaan infrastruktur offline seperti teller, kantor cabang, dan sebagainya yang cukup mahal perawatannya. Dengan semakin tingginya tingkat penggunaan transaksi online secara langsung akan meningkatkan kualitas layanan dari bank itu sendiri. Salah satunya terlihat dari berkurangnya antrian di teller, karena nasabah lebih nyaman bertransaksi dari meja kerjanya di kantor maupun dari kendaraannya.
Sebuah bank terkemuka bahkan menerapkan biaya tambahan untuk setiap transaksi yang dilakukan melalui teller, namun tidak demikian yang terjadi jika melakukannya secara online baik lewat komputer maupun perangkat seluler. Strategi ini cukup efektif untuk meningkatkan awareness nasabah untuk bertransaksi secara efektif dan efisien.
Mulai Dari Sekolah dan Rumah
Mengenalkan konvergensi secara tidak langsung dapat dilakukan sejak anak-anak baik itu di sekolah maupun di rumah. Orang tua dan juga guru menjadi ujung tombak untuk memberi wawasan bagi pada anak-anak. Namun bisa jadi mengenalkan konvergensi di lewat sekolah harus melalui jalan mengenalkan edukasi lewat Internet terlebih dahulu.
Sebagai ilustrasi, bisa saja seorang guru yang mungkin hanya sedikit mengenal Internet memberikan tugas khusus kepada siswa-siswanya untuk menuliskan apa topik utama hari tersebut dari sebuah situs surat kabar di Indonesia sebagai tugas yang harus dikumpulkan esok harinya. Guru cukup memberi sedikit petunjuk alamat situs tersebut. Jika tugas-tugas kecil semacam ini sering diberikan, secara tidak langsung para siswa akan ”terpaksa” mengenal bentuk konvergensi media surat kabar di dunia Internet. Jika berhasil, lanjutkan dengan memberi tugas untuk mendapatkan informasi melalui situs WAP dari surat kabar tesebut untuk tugas minggu berikutnya.
Bagaimana dengan di rumah? Anak-anakpun harus mulai dikenalkan orang tua untuk berpikir praktis namun efektif. Misalnya si anak sedang menonton acara TV favoritnya tiba-tiba listrik padam dan harus menunggu lama. Melihat raut muka anak yang muram, orang tua mencoba mencarikan acara televisi yang diinginkan si anak tadi lewat HP yang telah di lengkapi dengan fasilitas mobile TV. Orang tua kemudian mengajak anak menonton bersama acara tersebut, dan si anakpun kembali ceria.
Jadi yang harus diedukasi pertama adalah pendidik dan orang tua.
Kesuksesan Konvergensi
Edukasi menjadi alat utama bagi kemajuan suatu bangsa. Meskipun meng-upgrade fasilitas dan teknologi yang ada juga merupakan sebuah keharusan untuk mempercepat laju konvergensi, namun melakukan edukasi pengguna lebih penting ketimbang fasilitas itu sendiri. Bangsa dengan sumber daya manusia yang mampu bersaing, meski dengan teknologi yang terbatas jauh lebih mampu bersaing ketimbang negara dengan teknologi canggih namun kurang sumber daya manusia.
Rendahnya kualitas edukasi pengguna TI dan juga telekomunikasi di Indonesia dapat dilihat dari fenomena kurangnya fitur-fitur yang diakses oleh seorang pengguna HP dibandingkan dengan jumlah total fitur yang disediakan didalam HP tersebut. Meski pengguna hampir selalu meng-upgrade HP yang digunakannya setiap tahun, namun kenyataannya fitur-fitur yang paling banyak digunakan pun tak beranjak dari SMS, voice call maupun akses buku alamat dan organizer.
Pemerintah dan swasta memiliki tanggung jawab utama untuk mengembangkan konvergensi. Namun edukasi pengguna tidak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada pemerintah maupun swasta. Kita semua punya kewajiban yang sama. Jadi, buat apa menunggu lagi. Mari hidup lebih efektif dan efisien.